Tampilkan postingan dengan label Advent. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Advent. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

Wisata Sejarah di Leang Leang



Deretan batu cadas objek wisata leang leang

Berwisata ke tempat sejarah bagi sebagian orang belum menjadi pilihan. Itu bisa dilihat dari Taman Wisata Sejarah Leang Leang, Maros, Sulawesi Selatan yang kita datangi. Padahal wisata ke tempat sejarah sangat berguna. Baik sebagai ajang tambah pengetahuan ataupun sekadar menikmati pemandangan alamnya.


Potensi Wisata Leang Leang

Pepohonan yang berjejer
di taman wisata leang leang
Sebelum menemukan akar persoalannya, perkenankan saya untuk memetakan potensi yang dimiliki oleh Taman Wisata Sejarah Leang Leang setelah berkunjung kesana.

Hal pertama adalah potensi alam yang ada disana. Kondisi geografis yang dikelilingi oleh gunung gunung dan hamparan petak sawah menjadi view yang tak biasa. Perjalanan sekitar 10 menit dari jalan utama menjadi pengalaman tersendiri. Apalagi kalau masuk musim panen, saat padi sudah menguning dan pantulan sinar matahari dari puncak gunung terpantul. Akan terlihat sangat indah.

Itu baru perjalanan menuju ke leang leang. Saat sampai, kita dikagetkan dengan gugusan batu batu cadas yang berwarna hitam tertancap di tanah. Ukuran dan bentuknya beragam. Bahkan ada bentuk batu cadas yang menyerupai gajah. Tingginya ada yang sampai tiga meter. Keberadaan batu cadas ini jadi semacam seni yang dibuat oleh alam dan masih bisa kita nikmati hingga sekarang.

Karena pemandangannya yang unik dan indah ini, beberapa pasangan memilih untuk melakukan foto prawedding di taman wisata sejarah ini. Saat kita berkunjung saja, sekitar tiga pasangan datang bergantian. Sebelumnya, kata petugas, sudah banyak yang datang.


Lukisan cap tangan di dinding gua yang merupakan peninggalan jaman dahulu

Potensi kedua pada taman wisata sejarah leang leang ini adalah gua yang tersebar disepanjang maros-pangkep. Dari hasil penelitian para peneliti arkeolog, ditemukan sekitar ratusan gua. Sehingga pantas saja namanya leang leang yang berarti gua. Karena itulah yang menjadi identitasnya.

Awalnya, gua pertama ditemukan oleh dua orang peneliti asal belanda, Van Heekeren dan Mrs. Heeren Palm pada tahun 1950, yang kemudian diberi nama Leang Petta Kere. Gua ini menjadi menarik karena kedua peneliti ini menemukan sebuah lukisan telapak tangan dan lukisan binatang pada dinding gua ini. Temuan ini mengundang ketertarikan para arkeolog untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Tidak hanya arkeolog dalam negeri, arkeolog asing pun tertarik untuk datang menelitinya.

Terakhir para arkeolog memperkirakan bahwa lukisan ini ada sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Lebih rinci lagi berdasarkan penjelasan dari pemandunya, maksud dari lukisan tangan ini bukan cuma sekadar lukisan. Tapi memiliki nilai sakral dan religius. Dengan lukisan orang jaman dulu melakukan komunikasi dengan kekuatan yang lebih tinggi dan menghubungkannya dengan simbol belasungkawa. Lukisan dengan jari lengkap sebagai bentuk penolak bala. Untuk lukisan jari yang jumlahnya cuma empat karena mereka ikut ritual pemotongan jari ketika kerabat terdekatnya meninggal.Sehingga jarinya tidak lengkap. Satu lagi, lukisan babi rusa yang terkena panah di jantung menggambarkan perilaku manusia jaman prasejarah yang suka berburu makanan.

Keunikan lain dari lukisan ini karena meski umurnya sudah ribuan tahun, tapi lukisannya masih kentara dan masih dilihat hingga sekarang. Para peneliti kemudian menyimpulkan bahwa orang jaman dulu menggunakan cairan pewarna yang langsung menyerap ke dinding gua. Sehingga tak gampang hilang seperti cat pewarna. Beruntunglah bisa melihat bukti sejarah masa lalu. Tapi belum ada peneliti yang menyebut langsung bahan apa yang digunakan hingga bisa bertahan berpuluh puluh tahun.

Sebelumnya beberapa peneliti seperti samidi (1985 dan 1986) telah melakukan survey, konservasi dan observasi. Dari hasil laporannya, ia menduga bahwa cairan yang digunakan adalah hematit, sejenis biji besi yang berwarna merah kehitam hitaman. Ini didukung dari temuan hasil penggalian I.C. Glover pada tahun 1973 di sekitar leang petta kere. Hematit ini ditemukan pada berbagai lapisan bersama-sama dengan temuan batu inti alat serut.

Terus kenapa bisa cairan bertahan hingga bertahun tahun lamanya. Hasil dari penelitian berikutnya mengungkapkan bahwa terdapat bahan asam sebagai bahan pengikat yang bereaksi dengan dinding karst menyebabkan permukaan karst yang berkontak dengan larutan pewarna menjadi larut sementara, kemudian mengeras kembali dan bahan warna terikat (berinteraksi secara kimia). Kasarnya, bahan asam ini memicu pembentukan lapisan stalaktik di atas sehingga cairan pewarna ini terbungkus.

Sehingga dapat disimpulkan orang jaman dulu telah mengenal teknik pengolahan. Soalnya menurut beberapa peneliti, hematit yang bentuknya padat harus mengalami proses terlebih dahulu hingga menjadi cair. Dengan melihat bukti lukisan ini kita bisa mengenal lebih jauh bagaimana perilaku orang jaman dulu.

Gazebo, tempat istrahat di taman wisata leang leang
Potensi ketiga yang dimiliki leang leang adalah sejarahnya. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya tentang lukisan yang ada di dinding gua. Itu menjadi objek kajian penelitian oleh para arkeolog. Karena bukti sejarah ini leang leang kemudian tersebar ke seluruh dunia.

Sejarah lain yakni keberadaan batu batu cadas hitam besar. Kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa batu batu besar seperti itu bisa tersusun di areal taman wisata sejarah leang leang ini. Kalau manusia, itu tentu tidak mungkin. Jika ditilik dari sejarahnya, ternyata batu batu itu merupakan batuan dari dasar laut. Jadi sebelumnya daratan tempat saya berpijak merupakan lautan pada jaman dulu. Bukti lainnya bisa dilihat dari kulit kulit kerang yang sudah membatu di sekitar gua.

Batu cadas yang mirip gajah dan gugusan
batu cadas lainnya dengan beragam ukuran

Potensi ke empat, fasilitas yang dimiliki oleh taman wisata leang leang ini sudah lumayan cukup. Beberapa gazebo tempat istirahat, jembatan penyeberangan dengan aliran air di bawahnya, pondok dan museum kecil. Tempat menyimpat artefak dan batuan sejarah. Sehingga orang orang yang datang bisa melihat secara langsung bukti bukti sejarah yang masih tersimpan utuh.

Jika dilihat dari berbagai potensi di atas, jadi tidak mungkin jika kurangnya pengunjung karena faktor tempatnya yang tidak nyaman.

Suasana dalam gua yang memiliki
suhu sekitar 27 derajat celsius

Yang perlu diperbaiki
Meski tempat ini punya banyak potensi, tapi tempat ini juga tidak luput dari kekurangan. Salah satu kekurangan yang saya lihat adalah akses jalannya yang masih kurang mendukung padahal panorama di sisi kiri dan kanannya sudah asyik. Jalanan yang masih tidak teraspal sepenuhnya tentu akan menghambat akses menuju lokasi. Disini peranan pemerintah dan dukungan masyarakat sangat penting.

Kedua, aktifitas promosi wisata yang masih kurang. Tak adanya gerakan ataupun event budaya misalnya, yang menyuarakan visit leang leang. Padahal jika itu dilakukan dan menjadi agenda tahunan, tak menutup kemungkinan taman wisata ini akan diserbu oleh para pelancong.

Saya pikir, menjawab pertanyaan di awal, inilah persoalan yang mesti dibenahi. Sangat sayang jika potensi taman wisata prasejarah ini terkubur dalam sejarahnya sendiri. Seperti sebuah sejarah yang dilupakan.
[ Read More.. ]

Berwisata dan Menyelam di Pulau Derawan



Pantai indah di Pulau Derawan
Wisata Indonesia memang tiada duanya. Dari Sabang sampai Merauke, banyak objek-objek wisata menarik yang kita miliki, mulai dari pantai hingga pegunungan. Berkunjung ke Kalimantan Timur, sempatkanlah untuk menginjakan kaki di Pulau Derawan. Sebuah pulau dengan pemandangan laut yang indah serta dikenal sebagai salah satu lokasi menyelam terbaik di dunia.

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, nama Pulu Derawan barangkali belum terlalu populer. Pun begitu, banyak turis asing, terutama dari jepang yang sudah mengenal keberadaan pulau eksotis ini. Tujuan utama para turis asing itu adalah untuk menikmati keindahan bawah laut dari Pulau Derawan.

Di perairan sekitar Pulau Derawan, terdapat terumbu karang yang indah dengan beraneka ikan cantik, penuh warna. Pada batu karang di kedalaman sepuluh meter, kita akan berjumpa dengan sebuah karang yang bernama Blue Trigger Wall. Pada karang yang memiliki panjang sekitar 18 meter ini, banyak terdapat ikan trigger. Karena itulah karang tersebut dinamakan Blue Trigger Wall.

Menyelam bersama penyu
Pulau Derawan terlihat begitu alami. Birunya laut berpadu dengan lumut-lumut yang hijau seakan makin mempercantik wajah pulau ini. Deburan ombak laut yang jernih, sesekali mengiringi penyu-penyu jinak yang mendekat ke tepian pantai.

Meski tersembunyi, Pulau Derawan juga sudah memiliki beberapa fasilitas yang cukup memadai. Di antaranya adalah penginapan. Para turis yang ingin bermalam di pulau ini bisa menyewa salah satu penginapan yang ada.

Untuk bisa sampai ke Pulau Derawan ini, dari Balikpapan, para turis harus terbang menuju Tanjung Redeb selama sekitar 1 jam. Selain pesawat, jalur laut juga bisa dipilih. Tanjung Redeb juga bisa dicapai menggunakan perahu atau kapal dari Samarinda atau Tarakan. Dari Tanjung Redeb perjalanan dilanjutkan dengan motorboat ke Pulau Derawan selama 2 jam.

Penginapan di Pulau Derawan
Berwisata ke Pulau Derawan dijamin akan memuaskan. Keindahan alam dan laut begitu memesona. Selamat berwisata, selamat menikmati Indonesia
[ Read More.. ]

Eksotisme Gunung Pertama di Riau


Gunung Jadi, gunung pertama yang ditemukan di Riau ternyata memiliki pesona dan keindahan alam yang luar biasa. Gunung dengan ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut itu mempunyai potensi wisata alam yang menarik.

Dalam konferensi pers yang digelar Tim XPDC 12-12 di Hotel Pangeran Pekanbaru, Jumat 13 Januari 2012, Koordinator XPDC 12-12, Hisam Setiawan menjelaskan Gunung Jadi mempunyai dua puncak.

Selama menuju puncak gunung, tim juga menemukan ada pepohonan Pinus di sekeliling Gunung Jadi. "Di lembah gunung banyak air terjun. Sedikitnya selama menuju perjalanan ke puncak gunung, kami menemukan 7 air terjun dengan ketinggian 3 meter hingga 30 meter," paparnya.



Air terjun di Gunung Jadi

Selain itu, ada juga kubangan yang diperkirakan adalah kubangan badak. "Namun mengenai ini perlu penelitian lagi dari instansi yang berkompeten di bidang ini," ulasnya.

Hisam menambahkan lagi, berbagai jenis burung juga banyak dijumpai. Ia memastikan pagi pencinta burung di dunia, suasana di kawasan gunung Jadi sangat mencengangkan.

Burung di Gunung Jadi

Gunung Jadi ini terletak di Kabupaten Kampar yang disebut dengan "Serambi Mekkahnya" Riau. Tepatnya di Kecamatan Kampar Kiri, dalam kawasan Suaka Marga Satwa Bukit Rimbang Baling.

"Gunung tersebut tidak aktif lagi. Dan kondisinya memang belum terjamah. Karena masih perawan, akses ke puncak gunung sangat sulit. Dibutuhkan waktu sekitar 5 hari mencapai puncak gunung," sebut Hisam.

Tim perjalanan XPDC 12-12 terdiri dari River Defender, Brimapala Sungkai, Telapak BT Riau, Yayasan Mitra Insani dan Gurindam12. "Kami berharap pemerintah dan instansi terkait memberikan perhatian kepada keberadaan gunung ini. Karena selain tidak diketahui keberadaannya, gunung Jadi ternyata memiliki keindahan alam yang bisa dikembangkan untuk kawasan wisata," ujar Hisam.
[ Read More.. ]